Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
2012, Satwa Langka Marak Diperjualbelikan secara Daring
Tercatat sepanjang 2012, ada 303 ekor satwa dilindungi yang diperdagangkan secara online, terdiri dari 27 spesies.
Menurut laporan akhir tahun ProFauna Indonesia 2012, perdagangan satwa dilindungi secara daring (online)
meningkat. Tercatat sepanjang 2012, terdapat 303 ekor satwa dilindungi
yang diperdagangkan secara daring, terdiri dari 27 spesies.
Antara lain spesies kancil (Tragulus javanicus), trenggiling (Manis javanica), kijang (Muntiacus mutjack), kucing hutan (Prionailurus bengalensis), lutung jawa (Trachypithecus auratus), kukang (Nycticebus sp.), elang jawa (Nisaetus bartelsi), elang hitam (Ictinaetus malayensis), kakatua raja (Probosciger atterimus), dan kakatua seram (Cacatua molucensis).
Sedikitnya tercatat ada lima kasus perdagangan satwa secara online yang diproses hukum. Kasus perdagangan satwa secara online ini terjadi di wilayah Jakarta, Karawang, Jawa Barat dan Pamanukan, Jawa Barat.
Dari tangan empat orang tersangka berbeda tersebut berhasil disita
belasan ekor satwa yaitu elang jawa, elang brontok, kulit harimau,
opsetan penyu, buaya, kukang, kucing hutan, serta kakatua raja.
Perdagangan satwa dilindungi, baik hidup maupun ofset, dilarang. Menurut UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku perdagangan dapat dikenakan sanksi penjara lima tahun dan denda Rp100 juta.
Chairman ProFauna Indonesia Rosek Nursahid menyatakan, pihaknya mendorong pemerintah untuk terus melakukan penegakan hukum yang mengontrol perdagangan satwa ilegal. ProFauna juga mengajak masyarakat membantu menghentikan perdagangan satwa ilegal tersebut dengan cara tidak membelinya.
(Gloria Samantha. Sumber: ProFauna Indonesia)
Antara lain spesies kancil (Tragulus javanicus), trenggiling (Manis javanica), kijang (Muntiacus mutjack), kucing hutan (Prionailurus bengalensis), lutung jawa (Trachypithecus auratus), kukang (Nycticebus sp.), elang jawa (Nisaetus bartelsi), elang hitam (Ictinaetus malayensis), kakatua raja (Probosciger atterimus), dan kakatua seram (Cacatua molucensis).
Sedikitnya tercatat ada lima kasus perdagangan satwa secara online yang diproses hukum. Kasus perdagangan satwa secara online ini terjadi di wilayah Jakarta, Karawang, Jawa Barat dan Pamanukan, Jawa Barat.
Perdagangan satwa dilindungi, baik hidup maupun ofset, dilarang. Menurut UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku perdagangan dapat dikenakan sanksi penjara lima tahun dan denda Rp100 juta.
Chairman ProFauna Indonesia Rosek Nursahid menyatakan, pihaknya mendorong pemerintah untuk terus melakukan penegakan hukum yang mengontrol perdagangan satwa ilegal. ProFauna juga mengajak masyarakat membantu menghentikan perdagangan satwa ilegal tersebut dengan cara tidak membelinya.
(Gloria Samantha. Sumber: ProFauna Indonesia)
Sarah si Cheetah Hewan Tercepat di Dunia
Kecepatan Sarah membuat juara dunia asal Jamaika, Usain Bolt, kalah telak. Akselerasi Sarah bahkan bisa menandingi mobil Lamborghini.
![]() |
| Sarah si cheetah. Catatan waktunya mengagumkan dengan 5,95 detik untuk jarak 100 meter. (Ken Geiger/National Geographic) |
Sarah, cheetah betina penghuni Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat, berhasil mencatatkan diri sebagai makhluk hidup tercepat di jagat. Dia menorehkan waktu 5,95 detik untuk jarak tempuh 100 meter, sekaligus memecahkan rekor dunia. Kecepatan yang ditempuhnya? 98 kilometer per jam!
Demikian pengumuman resmi yang dinyatakan pihak kebun binatang dan National Geographic Magazine, Kamis (2/8). Hasil ini membuat pelari tercepat di dunia asal Jamaika, Usain Bolt, kalah telak. Bolt, lima kali juara dunia dan pemegang tiga medali emas Olimpiade, hanya mencatatkan waktu 9,58 detik di lintasan 100 meter. Akselerasi Sarah bahkan bisa menandingi mobil sport buatan Italia, Lamborghini.
Catatan waktu Sarah diambil 20 Juni lalu untuk tampil sebagai salah satu feature di majalah National Geographic edisi November. Sarah, dan empat cheetah lainnya, dibiarkan berlari sprint secepat mungkin.
Bagi para cheetah (Acinonyx jubatu), tes ini nampak seperti permainan. Karena mereka diharuskan mengejar boneka anjing yang berada di belakang mobil van. "Tak ada yang bisa berlari seperti Sarah. Dia itu istimewa, saya selalu yakin jika dia bisa berlari di bawah waktu enam detik," kata Duta Besar Program Kucing Kebun Binatang Cincinnati Cathryn Hilker.
Ditambahkan editor photo National Geographic, Kim Hubbard, Sarah terlihat seperti misil berpola polkadot. "Saya tidak pernah melihat sesuatu yang hidup, lari begitu cepat."
Demo kecepatan cheetah ini dinilai baik untuk perkembangannya. Selain itu, kehadiran cheetah super cepat juga membantu pengumpulan dana untuk konservasi.
Tapi ditekankan Hilker jika cheetah juga makhluk hidup, individual. Mereka punya mood, sama seperti manusia."Dan seperti manusia, beberapa dari mereka adalah atlet yang lebih baik dibanding lainnya."
Lebih mengagumkan lagi, catatan waktu Sarah bisa terkalahkan oleh cheetah di alam bebas. Sebab, cheetah di alam liar harus berburu agar tidak kelaparan dan menjaga kelangsungan hidup bayi mereka.
Setetes Harapan Air Muncul Bagi Namibia
Menurut United Nations Development Programme (UNDP), Namibia merupakan negara paling kering di kawasan selatan Afrika.
Namun, kini ada secercah harapan bagi bangsa tersebut untuk menikmati air bersih layaknya negara-negara lain. Pekan lalu, Kedutaan Besar Jerman di Namibia mengumumkan, para pakarnya telah menemukan sebuah cadangan air bawah tanah di kawasan Namibia, dekat dengan perbatasan Angola.
Cadangan air bawah tanah ini cukup besar, menampung hingga lima juta kubik air bersih yang dapat digunakan untuk memasok seluruh kawasan itu untuk 400 tahun ke depan. “Jika cadangan air bawah tanah itu benar berada di sana dan keberadaannya terbukti secara ilmiah, itu akan sangat melegakan bagi warga di kawasan utara Namibia,” kata Abraham Nehemia, juru bicara kementerian agrikultur Namibia.
“Namun uji coba pembuktian belum dituntaskan, dan kuantitas air yang tersedia belum bisa terbukti secara ilmiah,” ucapnya.
Martin Quinger, Project Manager dari German Federal Institute for Geosciences and Natural Resources menyebutkan, menurut perkiraan yang dibuat secara hati-hati, volume air yang tersedia bisa memasok populasi padat di kawasan utara Nambia selama 400 tahun, apalagi jika mengingat jumlah volume pasokan air saat ini.
“Air yang ada di sana memiliki kualitas yang bagus dan berusia sekitar 10 ribu tahun,” kata Quinger yang melaporkan temuannya tersebut pada Namibia Scientific Society. “Air tersebut berasal dari kawasan selatan Angola yang terkumpul saat musim hujan dan mengalir secara perlahan-lahan di bawah tanah, menuju ke Namibia,” ucapnya.
Akuifer raksasa tersebut, kata Quinger, berada di kedalaman antara 280 sampai 350 meter dan mencakup kawasan seluas sekitar 70 x 40 kilometer di Namibia. Sumber daya alam yang sangat berharga ini dilindungi oleh lapisan bebatuan yang kuat dan di atasnya diselimuti oleh lapisan air asin.
“Namun, penggalian ilegal dan tak terkoordinasi pada akuifier raksasa ini akan mengancam kebersihan air tersebut,” sebut Quinger. “Kedua lapisan air ini bisa tercampur hingga menurunkan kualitas air purba tersebut,” ucapnya.
Untuk itu, Quinger dan timnya telah mengajukan proposal untuk membebaskan kawasan tersebut sambil melanjutkan penelitian hingga tahun depan.
Saat ini, sekitar 800 ribu penduduk tinggal di kawasan utara-tengah Namibia, atau 40 persen dari total populasi warga negara itu yang mencapai 2,1 juta penduduk. Selama ini, mereka mendapatkan pasokan air bersih dari bendungan Calueque di Sungai Kunene, di kawasan barat daya Angola.
Meski begitu, Namibia terus berupaya mencari cara lain untuk mendapatkan kepastian pasokan air. “Jika pasokan air yang baru ditemukan ini bisa dikonfirmasikan keberadaannya, pemerintah kami bisa juga berupaya memasok kebutuhan warga Namibia tengah dari sana,” kata Nehemia.
Badai Musim Panas Memperparah Penipisan Ozon
Peningkatan frekuensi dan intensitas badai musim panas akibat pemanasan global dapat menciptakan lubang-lubang baru pada lapisan ozon.

Dari beberapa penelitian dikatakan, fenomena badai musim panas mengarah kepada berkurangnya lapisan ozon yang melindungi Bumi dari pancaran radiasi sinar ultraviolet. Badai akan menghasilkan lebih banyak uap air—yang berpotensi sebagai gas rumah kaca, ke stratosfer yang merupakan lapisan tengah dari atmosfer (sekitar 14-35 kilometer di atas permukaan Bumi).
James Anderson, seorang kimiawan atmosfer dari Harvard University menjelaskan bahwa kondisi seperti itu, meski belum terkonfirmasi, akan mampu untuk menyebabkan kehilangan ozon fatal (greater ozone loss). "Berdasarkan observasi terbaru, pada kondisi yang baik, uap air memicu reaksi kimia yang menipiskan lapisan ozon," tuturnya menambahkan.
Serangkaian penelitian Anderson dan para rekannya di Amerika Serikat menyimpulkan, bahwa unsur kimiawi di Kutub Utara saat ini berada pada tingkatan mendekati sangat potensial untuk menghancurkan ozon.
Pada penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science ini, diperhitungkan hilangnya ozon adalah 4 hingga 6 persen per hari di area stratosfer yang kaya uap air. Dampak tersebut bertahan selama beberapa minggu setelah badai.
Padahal para pakar mengatakan, bahkan reduksi minim dari lapisan ozon bisa memiliki dampak signifikan, yakni membuat orang-orang makin rentan terpapar kanker kulit dan kerusakan mata.
Satwa Juga Bisa Gunakan Sampo Herbal
Sampo herbal dari tanaman lidah buaya dan pandan ini terbukti aman bagi hewan kesayangan serta menghindarkan mereka dari berbagai penyakit.
Salon-salon kecantikan yang dinilai mampu memberikan perawatan satwa dengan baik pun sudah berjamuran di berbagai daerah. Namun, dari salon kecantikan satwa tersebut, belum pernah ada yang mengembangkan produk herbal untuk perawatan satwa. Hal inilah yang mendorong kelima mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta untuk mengembangkan perawatan satwa dengan sampo herbal.
Yosafat Agung Setiadi, Muhammad Atma Setiadi, Martinus Prasetya Dwi Nugraha, Aprilia Dwi Arisanti, dan Handang Widantara inilah inovator muda yang berhasil menyabet emas dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2012 Juli lalu. Yosafat menjelaskan, keistimewaan dari produk herbal ini adalah tanpa bahan kimia sehingga tidak menyebabkan penyakit pada hewan kesayangan serta aman bagi lingkungan.
“Selama ini produk sampo untuk perawatan satwa banyak menggunakan zat kimia. Ini sering kali menyebabkan satwa alergi dan berpotensi untuk menularkan penyakit pada pemiliknya. Dengan produk herbal ini, satwa serta pemiliknya akan aman dari penyakit hewan,” papar Yosafat di Yogyakarta, Selasa (31/7).
Produk sampo herbal ini dibuat sendiri oleh mereka dengan menggunakan berbagai tanaman herbal seperti lidah buaya dan pandan. Sampo herbal ini terbukti tahan lama dan tidak menyebabkan bau apek pada hewan kesayangan.
Sementara itu, keunikan lain dari perawatan satwa yang dikembangkan oleh kelompok ini adalah cek kesehatan satwa dengan bekerjasama dengan dokter hewan, garansi kesehatan satwa selama 3 bulan, fasilitas antar jemput, serta konsultasi 24 jam. Perawatan satwa juga dilakukan sesuai kondisi satwa yang bersangkutan.
“Dari salon kecantikan satwa seperti di Yogyakarta, banyak yang mengeluhkan tentang penanganan satwa yang tidak maksimal seperti tidak bersih atau satwa sering sakit setelah dipercantik diri. Untuk itulah, kami ingin memberikan pelayanan sesuai dengan prosedur yang benar,” ungkapnya.
Perawatan satwa khususnya hewan kesayangan perlu dilakukan dengan benar. Hal ini dilakukan karena hewan kesayangan juga memiliki insting untuk tampil cantik. Tak hanya itu, jika perawatan tidak benar maka hewan ini berpotensi menularkan penyakit hewan pada manusia.
Dokter Hewan dari Klinik Hewan Bagaswara, Arif Kurniawan mengaku bahwa inovasi sampo herbal untuk perawatan hewan kesayangan layak untuk dikembangkan secara massal. Sampo herbal terbukti aman untuk hewan dan lebih tahan lama.
“Sampai saat ini banyak salon kecantikan satwa yang menggunakan bahan kimia untuk memandikan hewan. Bahan kimia terbukti tidak aman untuk hewan dan juga lebih berdampak negatif bagi lingkungan,” paparnya.








