Tampilkan postingan dengan label Travel. Tampilkan semua postingan

9 Tempat di Dunia yang Harus Anda Kunjungi Sebelum Musnah

Bumi yang makin tua dan kerusakan lingkungan membuat sembilan tempat indah ini nyaris pupus dari muka bumi.

Gunung Kilimanjaro, Afrika. Puncak gunung ini termasuk dari satu dari tujuh yang tertinggi di dunia.(Thinkstockphoto) 
Banyak tempat di dunia yang menyajikan keindahan alam menakjubkan. Menyimpan berjuta keunikan yang membuat kita berdecak kagum. Dari berbagai tempat tersebut tentu ada yang belum pernah Anda kunjungi.
Namun, karena Bumi semakin tua ditambah lagi dengan berbagai kerusakan lingkungan, pemanasan global, pembalakan liar, dan tindakan manusia yang merusak, semakin mengancam keberadaan tempat-tempat unik di dunia. Berikut sembilan tempat di dunia yang memiliki keindahan alam dan keunikan tersendiri yang Anda harus kunjungi karena diprediksi akan hilang dan musnah.


Tidak perlu memiliki keahlian berenang, Anda akan mengapung dengan sendirinya di perairan asin yang tersohor di dunia dengan sebutan Laut Mati. Laut yang memiliki kadar garam yang tinggi, terletak di perbatasan Yordania, Israel, dan Tepi Barat menempati titik terendah di Bumi.

Mengapa harus sekarang? Pada tahun 1950 negara-negara Timur Tengah termasuk Yordania dan Israel menghentikan pasokan air dari Sungai Yordan ke Laut Mati karena alasan pasokan air tersebut digunakan untuk air minum. Tindakan ini mengakibatkan penurunan level air secara terus menerus dengan penurunan mencapai satu meter setiap tahunnya.

2.Kyoto, Jepang

Kyoto memiliki ciri khas sebagai kota kuno di Jepang, namun kini mulai beranjak menjadi kota modern. Hal ini ditandai dengan banyaknya townhouse tradisional machiya yang telah hilang. "Memang itu dapat kita pahami, di satu sisi lingkungan perkotaan memang tumbuh dan berkembang tapi di sisi lain, tempat-tempat peninggalan bersejarah juga penting, dan itu semua hilang," kata Erica Avrami, Direktur Pendidikan World Monuments Fund.

Pemandangan kota Kyoto, lengkap dengan icon menaranya di senja hari. (Thinkstockphoto)
Machiya yang saat ini rusak merupakan rumah dan tempat bekerja bagi para pedagang di Kyoto ketika Zaman Edo (1603-1867). Pihak kota saat ini berusaha mempertahankan Machiya sebagai usaha untuk memadukan sesuatu yang baru dengan yang kontemporer.
3. Kepulauan Solomon
Tetapere merupakan pulau topis terbesar tak berpenghuni di belahan bumi selatan. Pulau ini terselematkan dari tindakan pembalakan hutan ilegal yang sedang merajalela di Kepulauan Solomon. Tetapere sekilas tampak seperti surga secara murni di mana Anda bisa berenang dengan duyung dan gerombolan hiu.
4. Taman Nasional Gletser di Montana
Para peneliti memperkirakan tempat ini akan kehilangan identitasnya pada tahun 2020 karena perubahan iklim yang kian hari semakin memprihatinkan. Menurut The U.S. Geological Survey's Climate Change untuk program ekosistem gunung, ada sekitar 150 gletser di taman ini ketika didirikan di tahun 1910. Satu abad kemudian, yakni di tahun 2010 hanya tinggal 25 gletser. Hilangnya gletser di taman ini berimbas pada kondisi ekosistem. Selain itu juga berdampak pada keindahan panorama yang selama ini menjadi kekaguman tersendiri bagi pengunjung.
5. Bhutan
Negara ini dikenal sebagai negara yang terisolasi dari dunia luar.  Ada aksi sebagai tindakan penyeimbang antara tradisi bersejarah dengan pariwisata.  Misalnya para Bhikku tinggal di tempat terpencil di Biara Phajoding karena harus melakukan kegiatan sipritual. Namun, di saat yang sama mereka akan membuka diri terhadap para pengunjung.
Kuil yang disebut Tiger Nest di Bhutan. (Thinkstockphoto)

Semakin banyak pengunjung yang datang maka akan semakin sulit mendapatkan keseimbangan itu. Karena saat ini negara ini lebih terbuka terhadap pariwisata, maka sekarang adalah waktu yang tepat untuk melihat Bhutan.
6. Hutan Atlantik, Amerika Selatan
Hutan Atlantik kaya akan spesies, berada di atas tanah seluas 1,35 juta kilometer persegi yang membentang dari Brasil, Paraguay, Argentina, Uruguay. Namun, karena aksi pembalakan dan pertanian yang kian marak maka kini hutan ini sudah berkurang tujuh persen dari luas aslinya.
7.Gunung Kilimanjaro, Tanzania
Gunung Kilimanjaro telah ada sejak 10.000 tahun lalu, namun kini hampir 80 persen gletser yang ada di gunung ini telah mencair. Pemanasan global dan penggunaan lahan menjadi penyebab utama. Bahkan para ilmuwan memperkirakan salju di Gunung Kilimanjaro akan hilang pada tahun 2022.
8. Everglades, Florida
Taman Nasional Everledegs saat ini telah mengalami beberapa masalah mulai dari ular piton yang menyebar, perairan yang mulai tercemar, hingga tindakan tak bertanggung jawab yang dilakukan oleh para wisatawan.
Ekosistem dataran rendah dan hutan bakau dapat terkena dampak secara permananen karena dibanjiri oleh air garam dari permukaan laut yang naik dalam beberapa dekade mendatang. Beberapa proyeksi bagi Taman Nasional Everledges ke depannya antara lain hilangnya habitat pohon pinus karena masuknya air garam, serta mengancam rawa yang menjadi habitat bagi spesies burung gereja.
9. Maladewa
 Asap mengepul dari pembakaran limbah di Thilafushi merupakan hal yang paling mengancam Maladewa, negara terendah di dataran Bumi. Hal ini bisa menimbulkan kenaikan permukaan air laut. Dari 1.192 pulau kecil di negara kepulauan ini, hanya 200 pulau yang berpenghuni. Jumlah ini akan semakin menyusut jika kenaikan permukaan air laut semakin cepat di Samudera Pasifik.

Wayang Kulit Masuk Situs Dunia yang Patut Dinikmati Kaum Muda

Dari 936 daftar situs warisan dunia yang diakui UNESCO, ada sepuluh situs dunia yang patut dikunjungi kaum muda.

Kaum muda tentunya gemar dengan yang namanya traveling dan berwisata. Mengunjugi situs warisan dunia, menjadi salah satu tujuan wisata yang bukan saja menyenangkan tetapi juga dapat memperkaya wawasan dan pengalaman. Kita dapat belajar mengenai sejarah, geografi, keindahan luhur situs warisan dunia yang ada di Bumi.
National Geographic Travel membuat daftar dari 936 daftar situs warisan dunia yang diakui UNESCO, ada sepuluh situs dunia yang patut dikunjungi kaum muda. Salah satunya ialah pertunjukkan Wayang Kulit yang berasal dari Indonesia.
Wayang Kulit merupakan salah satu kesenian leluhur Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah. Boneka kayu tiga dimensi yang dikenal dengan sebutan wayang, menjadi salah satu repertoar yang dimainkan oleh dalang. Boneka kayu tersebut digerakkan di balik layar yang terbuat dari kain putih panjang yang membentang.
Pantulan bayangan boneka kayu dari kain putih menciptakan dramatisasi cerita sekuler yang dibalut religi. Ini menjadi sebuah seni pertunjukan di tangan seorang dalang yang lihai memainkan lakon.
Saat gerakan mistis adegan per adegan wayang dimainkan dalang, alunan musik gamelan, drum, gong, suling bambu mengiringinya. Cerita yang disuguhkan dalam pertunjukkan wayang mulai dari moralitas, epos India dan Persia, kritik, dan satir sosial. Dari wayang, snak-anak dapat belajar mengenai moral dan cerita kehidupan.
Selain Wayang Kulit terdapat sembilan situs warisan dunia lainnya. Di antaranya Karnaval Barranquilla, Kolombia. Karnaval ini menyuguhkan berbagai atraksi, koreografi tari, musik, dan kostum unik selama empat hari berturut-turut. Ini merupakan bentuk perayaan multikultural masyarakat Eropa, Afrika, dan akar adat Pantai Karibia.
Giant Causeway, Irlandia. (Thinkstockphoto)

Selanjutnya, Giant Causeway, County Antrim di Irlandia Utara yang merupakan formasi vulknik. Dekat dari lokasi itu terhampar sekitar 40 ribu bebatuan yang berbentuk heksagonal. Tempat ini terbentuk melalui proses vulkanologi selama 60 juta tahun yang lalu. Ketika lava cair dingin dengan cepat karena kontak langsung dengan air laut kontak lalu mengkristal menjadi pilar-pilar basal. 
Sydney Opera House, Sydney, Australia, menjadi lokasi berikut. Bangunan ini memiliki arsitektur revolusioner panggung untuk seluruh dunia. Dengan struktur melengkung dari beton yang bebentuk meyerupai kerang besar. Sydney Opera House tersohor di dunia sebagai tempat seni petunjukan dan sebagai ikon kota Sydney.
Lokasi ini juga menjadi tempat pertunjukkan seni tersibuk di dunia dengan lebih dari 1.750 pagelaran setiap tahunnya.
Lalu, Colosseum, Roma, Italia. Sebuah tempat panggung teater berbentuk elips yang awalnya terselimuti batu kapur. Di bawahnya terdapat labirin bawah tanah, di mana terdapat terowongan dan kurungan. Dulunya, para gladiator dan binatang seperti badak, gajah, singa, harimau, buaya, dan fauna ganas lainnya yang dikandangkan sebelum pertunjukkan.  
Masuk juga dalam daftar ini Sian Ka'an, Quintana Roo, Meksiko. Merupakan hutan mangrove yang tertutup Semenanjung Yucatán kerap dijadikan taman bermain air yang juga dipercaya sebagai sisa reruntuhan suku Maya yang misterius. Sian Ka'an, yang berarti "Di mana Langit itu Lahir" adalah cagar biosfer di pantai timur Semenanjung Yucatán yang kaya akan keanekaragaman hayati.

Serengeti National Park, Tanzania (thinkstockphoto)

Dilanjutkan dengan Serengeti National Park di Tanzania. Camp yang terletak di bawah langit Afrika ini merupakan tempat migrasi hewan terbesar di dunia tersohor sebagai wilayah konservasi yang dilindungi. Rusa, zebra, rusa ktub bersama hewan karnivora lainnya menjadi bintang di Serengeti National Park. Mereka membentuk sebuah komunitas terbesar di dunia, tempat ini juga merupakan pusat terkonsentrasinya predator besar di dunia.
Dinosaur Provincial Park, Alberta, Kanada. Merupakan taman situs fosil dinosaurus terbaik di dunia, menawarkan wisata safari anak untuk memahami dunia fosil. Para ahli telah menemukan lebih dari 35 species Dinosaurus di tempat ini.
Hawai’i Volcanoes National Park, Hawaii, ialah gunung berapi yang paling aktif di dunia dan masuk dalam daftar sepuluh situs yang wajib dikunjungi kaum muda. Menurut mitologi Hawaii, kaldera Halema‘uma‘u dari Kilauea adalah rumah api Pele - yang merupakan dewa api, petir, angin dan gunung berapi. Tempat ini merupakan tempat terbaik untuk mengamati bagaimana komponen-komponen geologis membentuk planet kita.
Situs Batu Cappadocia, Turki. (Thinkstockphoto)

Situs terakhir adalah Göreme National Park dan Situs Batu Cappadocia, Turki. Lokasi ini memungkinkan kita melihat batu dengan bentuk yang mengagumkan. Central Turkey’s Göreme Valley awalnya merupakan wilayah kering batu vulkanik lalu tererosi sehingga membentuk batu yang luar biasa.
Bentuknya seperti menara yang menjulang tinggi dan berbentuk kerucut tajam sebagai tiangnya. Di ujungnya terdapat batu keras sebagai atapnya. Batu ini sering disebut cerobong peri. Di dalam batu tersebut para keluarga dapat bermalam, seperti hotel di dalam goa.
(Umi Rasmi. Sumber: National Geographic Travel)

Sawai, Surga Tersembunyi Pulau Seram

Menginap di atas rumah panggung beralaskan laut, snorkling, dan memanjat pohon setinggi 45 meter.

Snorkling di Hatu Supung, Sawai. (Reynold Sumayku/NGI). 
Mendengar kata Pulau Seram di Maluku Tengah, yang terpikir pertama kali mungkin 'ada apa di sana?'. Selain nama pulaunya yang cukup 'seram', ingatan kerusuhan Ambon menjadi kekhawatiran berikutnya. Namun, saat kami mendarat di Bandara Pattimura, Ambon, kerisauan itu sirna. Ambon tidak pernah mengecewakan dalam hal pesona alamnya yang rancak.
Belum habis mengagumi alam Ambon, kami harus segera menuju Pelabuhan Tulehu untuk menuju ke Pulau Seram. Lokasi utama pendaratan kami: Sawai. Surga kecil yang berada di utara Seram. Dengan menempuh perjalanan bak Indiana Jones karena harus berganti perahu cepat, mobil minibus, dan perahu nelayan, dengan total durasi sekitar empat jam, akhirnya kami sampai di Horale. Desa ini menjadi daratan terakhir yang kami injak sebelum menuju Sawai.
Suasana di depan Penginapan Lisar, Sawai. (Andre Sitanala)

Saya sudah tidak peduli dengan bisingnya suara perahu nelayan kecil itu. Saya sudah terlalu sibuk mengagumi rentangan bukit yang berbaris memandu kami menuju Sawai. Warna air laut yang bergradasi sempurna, mulai dari putih hingga biru gelap, menjadi "alas" berikutnya.Hanya 30 menit perjalanan, kami akhirnya sampai di Sawai, desa nelayan kecil yang didekap rimbunnya Bukit Sawai. Kami bermalam di Penginapan Lisar milik Pak Ali dan istrinya, Salwa.
Besoknya, kami isi dengan snorkling di Hatu Supung (batu yang licin, gundul, dalam bahasa lokal). Jika dilihat sekilas, lokasi ini mirip Ha Long Bay yang ada di Vietnam. Hanya saja jika di Ha Long Bay berbentuk batu raksasa yang berdiri sendiri, Hatu Supung masih bersatu dengan bukit sekitarnya. Snorkling di sini seperti melihat ke dalam kaca karena beningnya air yang ada. Koral berbagai warna juga berkumpul di sini. Tapi hati-hati, bagi Anda yang kurang pandai berenang, jangan sampai terbawa ke perairan dalam yang hanya berjarak lima meter dari bibir pantai.
Kegiatan berikutnya melongok Pulau Raja atau yang disebut Pulau Marsegu (kelelawar) oleh warga sekitar.  Tadinya ini adalah pulau yang digunakan oleh raja dan keluargnya untuk perkebunan. Tapi sekarang sudah beralih fungsi jadi lahan konservasi mangrove dan habitat kelelawar yang ada di dalamnya.

Namun, yang menjadi objek wisata kami adalah Morite Forest Canopy Platform. Wisata menaiki pohon kayu besi setinggi 45 meter dari atas tanah di hutan Morite. Untuk menuju pohon yang dituju, kami harus melakukan perjalanan darat sekitar 45 menit yang terbagi di jalan aspal dan jalan hutan.
Wisata Morite Forest Canopy Platform. (Zika Zakiya/NGI).

Sesampainya di kaki pohon besi, para pemandu lokal yang berjumlah delapan orang menyiapkan peralatan standar untuk Single Rope Techniques (SRT). Masing-masing dari kami akan ditarik ke atas pohon untuk selanjutnya bersantai di platform yang dibangun dengan biaya Rp20 juta itu. Di atas sini, kami bisa melihat Taman Nasional Manusela, melihat burung mata merah, betet kelapa, burung kakak tua, bahkan melihat burung rangkong secara sekilas.
Diam sesaat di atas platform, menikmati alam, dan mengingat kembali kegiatan kami hari itu. rasanya memang pantas jika Sawai disebut sebagai surga tersembunyi-nya Pulau Seram.

Pelesir Sambil Melestarikan Alam Taman Nasional Komodo

Pejalan tidak hanya menikmati alam, tapi juga melestarikan nilai-nilai wisata berkelanjutan di wilayah situs warisan dunia ini.

Pemandangan sebagian kawasan Taman Nasional Komodo. Kawasan yang dilindungi meliputi wilayah darat dan laut dengan luas total 1.817 kilometer persegi. (Reynold Sumayku/NGI). 

Taman Nasional Komodo, Situs Warisan Alam Dunia dan Cagar Biosfer UNESCO, memiliki kekayaan laut berupa 385 jenis karang penyusun terumbu, 1.000 jenis ikan karang, 70 jenis sponge, enam jenis paus, sepuluh jenis lumba-lumba, tiga jenis penyu, dan pari manta. Wilayah ini juga salah satu lokasi penyelaman terbaik di Indonesia dengan lebih dari 100 titik.
Namun, status TN Komodo ini mulai mendatangkan dampak negatif. Pulau yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur itu rusak oleh interaksi manusia yang mengambil sumber dayanya.
Beberapa ekor komodo berteduh di bawah rumah panggung yang menjadi salah satu kantor Taman Nasional di Pulau Rinca. Komodo (Varanus komodoensis) diketahui hanya hidup di pulau ini dan di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. (Reynold Sumayku/NGI).

Laporan yang disampaikan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) awal Agustus 2012  menyebut, terjadi penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak di area no take zone. Padahal, sesuai namanya, sumber daya di area ini harusnya tidak boleh diambil karena masuk wilayah konservasi.
Masyarakat sekitar TN Komodo memang bergantung dengan sumber daya alamnya. Awalnya mereka melakukan penangkapan ikan menggunakan bagan untuk menangkap ikan-ikan target, seperti cumi-cumi, udang kecil, anak ikan bandeng, dan kumpulan ikan pelagis lainnya.
Tetapi, komunitas yang jumlahnya hanya sekitar 4.000 orang ini mulai mendapat pengaruh dari luar. Keindahan dan keragaman hayati Pulau Komodo pun menarik manusia untuk mengekstrasinya melalui jalan pintas. Di antaranya dengan teknik penangkapan ikan yang merugikan dengan pemakaian dinamit, racun sianida, dan kompresor.
Teknik ini menurunkan kemampuan ekosistem laut dalam memberikan jasa kepada lingkungan sekitarnya. Dari sisi pariwisata, perusakan ini menurunkan nilai keindahan dan menggagalkan program Destination Management Organization (DMO) yang digalangkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Dikatakan Ketua Umum GIPI Didien Junaedy, tengah dilakukan usaha dengan para pejabat terkait untuk mengatasi masalah ini. Terpenting, edukasi untuk warga sekitar agar tidak merusak wilayah tempat tinggalnya sendiri.
Tidak hanya masyarakat setempat, pejalan yang menikmati alam Taman Nasional Komodo juga bisa menjadi pelestari. Dengan menggunakan pengetahuan tidak boleh merusak alam dan keseimbangannya, pejalan sudah melakukan usaha terkecil untuk pelestarian.

Perjalanan menuju Pantai Merah atau biasa disebut pink beach, lokasi wisata yang terkenal di wilayah Taman Nasional Komodo. Tersohor untuk snorkling atau pun diving. (Reynold Sumayku/NGI)
National Geographic Indonesia bekerja sama dengan Loreal Men Expert mencoba melestarikan wisata berkelanjutan di Pulau Komodo melalui program "Loreal Men Expert Black Trail." Pulau Komodo merupakan satu dari lima destinasi wisata yang akan dijelajahi pemenang yang dinilai berkomitmen memajukan pariwisata berkelanjutan.
Hari ini, Jumat (10/8) digelar penjurian untuk menentukan lima pejalan yang peduli lingkungan untuk melihat kembali kondisi terakhir Taman Nasional Komodo. "Diharapkan, para peserta setelah mengikuti kegiatan ini dapat menularkan prinsip-prinsip geowisata sekaligus menceritakan kembali pengalaman yang didapatkan selama perjalanan," ujar Editor in Chief National Geographic Indonesia Didi Kasim.

Menengok Repihan Majapahit di Trowulan

Sebuah perjalanan wisata sejarah untuk mengenang keagungan Majapahit. 

Candi Brahu merupakan tinggalan Buddha dari zaman Majapahit. Bangunan batu bata merah ini berada di Desa Bejijong. Para ahli arkeologi menduga bahwa keberadaan candi ini merupakan warisan dari zaman Pu Sindok pada abad ke-10 (Mahandis Y. Thamrin/NGI) 
Ramai kendang berpadu dengan cimplung, jidor, dan kempul mengiringi para sinden bersuara bak penyanyi seriosa. Mereka melantunkan tembang-tembang Jawa yang sepertinya dinyayikan tiga oktaf lebih tinggi untuk memanggil warga berkumpul di perempatan Desa Trowulan. Suatu malam pada bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, kuda lumping dipentaskan untuk memberikan keselamatan bagi warga desa.
Sejak Thomas Stamford Raffles menorehkan nama Trowulan—sebuah desa kecil dekat Mojokerto—dalam bukunya History of Java yang terbit pada1817, banyak peneliti mulai terkesima dengan eksotisnya nama Majapahit. Seabad kemudian Henri Maclaine Pont, seorang arsitek Belanda, menjadi orang pertama yang melakukan penggalian amatir di situs Trowulan. Berdasarkan Kakawin Nagarakertagama dan temuan lapangan, Pont mencoba merekonstruksi Kota Majapahit itu. Kelak usaha rekonstruksi itu dilanjutkan oleh beberapa ahli sejarah dan arkeologi hingga kini dengan temuan yang beragam.
Di manakah Pont tinggal selama dia meneliti Trowulan? Sebuah rumah indis akhir abad ke-19 dengan beranda luas berhias pilar-pilar menjadi rumah Pont. Kini rumah bersejarah itu masih bisa dijumpai dalam kondisi sangat terawat karena menjadi bagian Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Provinsi Jawa Timur di jalan raya Mojokerto-Jombang. Apabila Anda dari arah Kota Mojokerto, Gapura Wringin Lawang, sebuah bangunan gerbang tanpa atap, akan menyambut sebelum memasuki kawasan Trowulan.
Kerajaan Majapahit dikenal jago dalam teknologi tata kelola air. Sayangnya kanal-kanal yang mengelilingi dan saling berpotongan secara tegak lurus di kota Majapahit itu sekarang tak tampak lagi. Namun, sebuah penanda adanya teknologi tata air di kota kuno itu adalah kolam Segaran, yang artinya laut buatan. Luas Segaran kira-kira enam kali lapangan sepak bola, dan mungkin menjadi kolam buatan manusia terluas di dunia.
Rumah indis akhir abad ke-19 ini terletak di jalan raya Mojokerto-Jombang. Henry Maclaine Pont pernah tinggal di rumah ini pada awal abad ke-20. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
Situs lain yang masih berhubungan dengan teknologi tata air terletak di Trowulan sisi tenggara. Sebuah petirtaan kuno dari terakota yang lebih dikenal warga sebagai Candi Tikus. Pada 1914 petirtaan ini ditemukan warga secara tak sengaja ketika memburu hama tikus sehingga dinamai mirip hama perusak padi itu. Tak jauh dari petirtaan tersebut berdiri Gapura Bajang Ratu, bangunan batu bata berdesain paduraksa atau gapura beratap.
Desa Sentonorejo, Trowulan, sebuah kawasan yang dulunya dikelilingi kanal kuno, saat ini menjadi perhatian para ahli arkeologi. Temuan lantai segi enam, struktur bangunan di situs yang bernama Kedaton, deretan umpak persegi delapan, dan temuan-temuan permukiman telah menunjukkan bahwa kawasan ini diduga bagian keraton Majapahit.
Sebelah selatan Sentonorejo, terdapat situs Makam Troloyo. Terdapat beberapa makam Islam abad ke-14 dan 15. Situs permakaman ini menunjukkan bahwa kerukunan beragama telah terbina di Kota Majapahit. Seperti situs-situs lain di Indonesia, banyak legenda yang berkait dengan keberadaan makam Islam ini.
Kembali ke kawasan Segaran. Jika Anda melapar saat berkunjung ke Trowulan, beberapa warung di seberang kolam raksasa dengan menu khas ikan wader goreng dengan sambal nan mengelora, mangut lele, dan rawon siap puaskan selera.
Ikan wader goreng dengan sambal yang bersemayam di dasar piring dan mangut lele menjadi pilihan santap siang di depan Segaran. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)

Apabila melihat tinggalan permukiman dan bangunan lainnya, kapan Trowulan ini mulai dihuni? Sebuah prasasti yang berada pada situs Kubur Panjang, demikian warga Trowulan menjulukinya, menyebutkan penanaman pohon bodhi pada 1281. Hal ini menunjukkan adanya dugaan bahwa pada zaman Singhasari Trowulan sudah berpenghuni. Bahkan, lempeng prasasti yang ditemukan kawasan kompleks percandian di Bejijong menunjukkan bahwa pada abad ke-10 kawasan ini telah dihuni dinasti keturunan Mataram Kuno. Di Bejijong kini masih terdapat tinggalan dua candi, yaitu Candi Brahu dan Candi Gentong.
Makam Putri Cempa yang terletak tak jauh dari kawasan kolam Segaran dipercaya warga sebagai salah satu selir raja Majapahit asal Campa, begitulah legendanya, entah bagaimana sejarah sesungguhnya. Pastinya, makam Islam abad ke-15 ini ramai dikunjungi peziarah pada hari-hari tertentu pada penanggalan Jawa.
Jika Anda meniti dari garis tengah kolam Segaran menuju ke arah timur, Anda akan menemui sebuah reruntuhan Candi Menak Jinggo dengan bongkahan-bongkahan batu andesit. Sebuah patung garuda dari candi ini telah dipindahkan ke Museum Trowulan.
Tidak afdol apabila berkunjung ke tanah bekas kota kuno ini tanpa menyambangi Museum Trowulan yang merupakan museum dengan koleksi terlengkap tinggalan Majapahit: arca, relief, patung terakota, hingga pipa-pipa kuno. Di hamparan halaman museum itu terdapat struktur-struktur bangunan permukiman kuno yang ditampak-ulangkan beserta kearifannya: selokan batu bata dan lantai kerakal yang disusun supaya air mudah meresap.
Wicaksono Dwi Nugroho, selaku Koordinator Museum Trowulan telah merintis “Komunitas Jawa Kuno” yang sebulan dua kali bertemu di Museum Trowulan. Dia mengatakan bahwa komunitas ini bergiat bagaimana menulis huruf dan angka Jawa kuno, hingga membaca prasasti.  Meskipun baru berjalan setengah tahun, paguyuban ini sudah menggaet anggota sejumlah 30-40 orang awam asal kota-kota di Jawa Timur hingga Yogyakarta. Inilah salah satu bentuk pelestarian budaya yang dilakukan masyarakat secara sukarela untuk menyelamatkan warisan leluhur.
Malam itu perempatan desa Trowulan kian hingar bingar. Sesajen pisang, kembang, dan kemenyan menyeruakkan aroma magis. Lelaki berbadan gempal yang memerankan penari pembuka atau ganongan telah kesurupan. Bagi para penari, tak ada makna khusus dari tarian ini selain mewarisi budaya leluhur tanah Majapahit, sekaligus memberikan keselamatan desa. Awal pementasan mereka segera dimulai, seluruh pengiring bersiap seraya menyerukan nama paguyuban seni kuda lumping mereka, ”Majapahit Jaya!”
 
Rotating X-Steel Pointer

- Copyright © KIR MIPA Spensaka - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -